Kabupaten Sukabumi

IPAL SPPG Bantarkalong Belum Optimal, Ini Rekomendasi Puskesmas Warungkiara

×

IPAL SPPG Bantarkalong Belum Optimal, Ini Rekomendasi Puskesmas Warungkiara

Sebarkan artikel ini
Kepala Dapur SPPG Bantarkalong, M. Lutfi Fauji, mengakui adanya persoalan pada sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai belum berfungsi secara optimal. Foto: KARIMULLAH//INILAHSUKABUMI.COM
Kepala Dapur SPPG Bantarkalong, M. Lutfi Fauji, mengakui adanya persoalan pada sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai belum berfungsi secara optimal. Foto: KARIMULLAH//INILAHSUKABUMI.COM

INILAHSUKABUMI.COM – Keluhan warga terkait dugaan limbah dari aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bantarkalong, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, akhirnya mendapat perhatian dari pihak kesehatan. Setelah warga menyampaikan kekhawatiran mengenai bau tidak sedap dan dugaan pencemaran lingkungan, UPTD Puskesmas Warungkiara melakukan inspeksi dan menemukan sejumlah persoalan dalam pengelolaan sampah serta limbah di fasilitas tersebut.

Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku telah lama merasakan dampak dari limbah yang diduga berasal dari aktivitas dapur SPPG. Menurutnya, limbah sempat mengalir ke saluran air warga sebelum dialihkan menggunakan pipa ke arah sungai.

“Baunya menyengat, terutama pada malam hari. Sebelumnya limbah sempat mengalir ke selokan warga sebelum dialirkan menggunakan pipa ke arah sungai. Kondisi itu cukup mengganggu,” ujarnya.

Warga lainnya juga mengaku khawatir terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan. Bahkan, beberapa warga menduga kualitas air di sekitar permukiman mengalami penurunan.

“Dulu ikan di kolam saya sempat mati. Air menjadi keruh dan berbau. Bahkan ada warga yang mengeluhkan gatal-gatal. Kami menduga hal itu berkaitan dengan limbah yang dibuang,” katanya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dapur SPPG Bantarkalong, M. Lutfi Fauji, mengakui adanya persoalan pada sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang hingga saat ini belum berfungsi secara optimal.

Menurut Lutfi, pihaknya telah beberapa kali berkoordinasi dengan unsur kewilayahan maupun pihak pengelola fasilitas untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Namun, berbagai rekomendasi yang disampaikan sejak awal tahun belum sepenuhnya ditindaklanjuti.

“Kami sudah melakukan koordinasi dan rapat sebanyak tiga kali bersama ketua RT, RW, dan pihak pengelola. Persoalan infrastruktur maupun operasional IPAL merupakan tanggung jawab pihak mitra atau pengelola,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai usulan perbaikan telah disampaikan kepada pihak mitra sejak Januari 2026, baik secara tertulis maupun melalui komunikasi langsung. Namun hingga kini, tindak lanjut yang dilakukan baru sebatas survei lapangan.

“Rekomendasi sudah kami sampaikan sejak Januari. Sampai sekarang pihak mitra baru melakukan survei, belum ada pelaksanaan perbaikan secara nyata,” katanya.

Lutfi bahkan menyatakan tidak keberatan apabila pemerintah desa mengambil langkah penghentian sementara operasional sampai sistem pengolahan limbah berfungsi dengan baik.

“Kalau memang Kepala Desa memutuskan untuk menghentikan sementara operasional sampai IPAL berfungsi dengan baik, saya tidak keberatan. Yang terpenting sistem pengolahan limbah berjalan sesuai aturan,” tegasnya.

Menindaklanjuti persoalan itu, UPTD Puskesmas Warungkiara melalui Tenaga Sanitasi Lingkungan (TSL) melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) pada 20 Mei 2026 di Dapur SPPG Bantarkalong yang berlokasi di Kampung Cigadog, RT 004 RW 006, Desa Bantarkalong.

Kepala UPTD Puskesmas Warungkiara, Hudrimi, mengatakan hasil inspeksi menemukan sejumlah komponen yang belum memenuhi standar kesehatan lingkungan. Salah satunya adalah belum tersedianya tempat penyimpanan sampah sementara yang memadai sehingga berpotensi menimbulkan bau dan mengundang vektor penyakit seperti lalat dan tikus.

Selain itu, tim juga menemukan sistem pengelolaan limbah cair yang belum memenuhi persyaratan. Dapur SPPG diketahui belum dilengkapi grease trap atau perangkap lemak serta IPAL yang memadai sehingga limbah yang dibuang ke saluran pembuangan akhir masih dalam kondisi kotor dan menimbulkan bau.

“Berdasarkan hasil inspeksi, kami memberikan rekomendasi agar pihak SPPG segera melakukan perbaikan terhadap sistem pengelolaan sampah dan limbah yang ada. Hal ini penting untuk mencegah pencemaran lingkungan serta menjaga kesehatan masyarakat,” ujar Hudrimi, Rabu (3/6/2026).

Dalam rekomendasinya, Puskesmas Warungkiara meminta pengelola membangun tempat penyimpanan sampah sementara yang tertutup dan kedap air sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, pengelola juga diminta menyediakan IPAL yang memenuhi standar, lengkap dengan grease trap, sistem filtrasi, dan pengolahan limbah yang terintegrasi.

“Kami juga menekankan agar air hasil pengolahan limbah memenuhi baku mutu air limbah domestik serta dilakukan pengujian kualitas secara berkala. Langkah ini penting untuk memastikan aktivitas dapur SPPG tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat maupun lingkungan di sekitar kawasan Sungai Cimandiri,” pungkasnya. (*)

Reporter: Karimullah
Redaktur: Rendi Rustandi

Catatan Redaksi: Judul, foto dan isi berita ini disunting dari berita sebelumnya dengan judul ‘Puskesmas Warungkiara Sukabumi Keluarkan Rekomendasi Perbaikan untuk SPPG Bantarkalong, Temukan Masalah Sampah dan Limbah’. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *