Berita UtamaKabupaten Sukabumi

Warga Desa Sirnarasa Sukabumi Tolak Geothermal di Kaki Gunung Halimun

×

Warga Desa Sirnarasa Sukabumi Tolak Geothermal di Kaki Gunung Halimun

Sebarkan artikel ini
Warga Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak menyatakan penolakan terhadap rencana proyek geothermal di kawasan Guung Halimun karena dinilai berpotensi mengancam lingkungan dan lahan pertanian. Foto: Net
Warga Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak menyatakan penolakan terhadap rencana proyek geothermal di kawasan Guung Halimun karena dinilai berpotensi mengancam lingkungan dan lahan pertanian. Foto: Net

INILAHSUKABUMI.COM – Rencana proyek eksplorasi panas bumi (geothermal) di kaki Gunung Halimun mendapat penolakan dari warga Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Mereka menyuarakan keberatan terhadap proyek tersebut karena dinilai berpotensi menimbulkan bencana alam dan merusak lingkungan.

Aksi penolakan itu diketahui dalam video berdurasi 2 menit 37 detik yang direkam di sebuah madrasah viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, warga secara terbuka menolak rencana pengeboran geothermal yang akan dilakukan di kawasan Pasir Sikabayan, kaki Gunung Halimun.

Pernyataan sikap warga dipimpin oleh tokoh agama setempat, Ustaz Hilman atau yang akrab disapa Ustaz Embang. Ia bersama warga mendesak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, serta pihak terkait untuk membatalkan rencana proyek geothermal yang dinilai mengancam keselamatan warga dan kelestarian tanah adat.

Menurut Ustaz Embang, penolakan warga didasari kekhawatiran terhadap kondisi geologi wilayah yang labil dan rawan longsor. Ia menyebutkan, kawasan rencana pengeboran berada di daerah yang selama ini telah beberapa kali mengalami bencana tanah longsor.

“Ini bukan sekadar hasil kajian di atas kertas, tetapi fakta di lapangan. Di sekitar kampung kami sudah beberapa kali terjadi longsor. Kami tinggal di kawasan pegunungan. Jika pengeboran tetap dipaksakan, kami khawatir akan terjadi bencana besar,” ujar Ustaz Embang, Jumat (16/1/2026).

Ia menambahkan, kawasan Gunung Pasir Kabayan, Gunung Batu, dan Gunung Halimun merupakan satu kesatuan ekosistem yang saling menopang. Gangguan di satu titik, menurutnya, dapat berdampak pada keseluruhan kawasan.

“Semua gunung itu saling terhubung. Jika satu bagian dirusak, dampaknya akan dirasakan secara luas,” katanya.

Selain potensi bencana, warga juga menilai proyek geothermal mengancam keberadaan lahan pertanian produktif yang sebagian berada di wilayah kampung adat. Pendekatan ganti rugi dinilai tidak sebanding dengan nilai keberlanjutan lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.

“Uang ganti rugi bisa habis dalam waktu singkat, tetapi sawah yang diwariskan leluhur sejak dulu hingga sekarang terus memberi kehidupan bagi kami,” ujar Ustaz Embang.

Warga juga mengeluhkan minimnya sosialisasi terkait rencana proyek geothermal tersebut. Menurut mereka, sejumlah aktivitas proyek telah dilakukan tanpa penjelasan menyeluruh kepada masyarakat, mulai dari pemasangan patok, pita pembatas, hingga pembelian lahan.

“Sosialisasi tidak boleh hanya kepada pemilik lahan yang terdampak langsung. Seluruh warga desa harus mengetahui rencana ini karena dampaknya akan dirasakan bersama, termasuk kerusakan jalan akibat aktivitas kendaraan berat,” tegasnya.

Ustaz Embang mengungkapkan, pihaknya telah mengirimkan video penolakan dan surat pengaduan kepada Gubernur Jawa Barat sejak sekitar satu bulan lalu. Ia juga mengaku sempat berkomunikasi langsung dengan tim perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Kami sudah menyampaikan aspirasi warga, baik melalui video maupun secara langsung ke Pakuan. Keluhan masyarakat sudah diterima oleh tim utusan Gubernur,” pungkasnya. (*)

Redaktur: Rendi Rustandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *