INILAHSUKABUMI.COM – Singapura kembali menjadi negara dengan realisasi investasi terbesar di Indonesia sepanjang 2025. Nilai investasi dari Negeri Singa tersebut mencapai US$ 17,4 miliar, dengan mayoritas mengalir ke sektor industri logam dasar dan barang logam.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan, investasi Singapura masih mendominasi karena kuatnya minat pada sektor hilirisasi dan manufaktur berbasis sumber daya alam.
“Kalau kita lihat, investasi Singapura banyak masuk ke industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta Selatan.
Selain Singapura, Hong Kong menempati posisi kedua sebagai negara investor terbesar di Indonesia dengan nilai realisasi mencapai US$ 10,6 miliar. Investasi Hong Kong tersebar di sektor jasa, perdagangan, dan industri manufaktur.
China berada di peringkat ketiga dengan nilai investasi sebesar US$ 7,5 miliar. Investasi China banyak diarahkan ke sektor pertambangan, industri pengolahan, serta proyek infrastruktur strategis.
Malaysia menyusul di posisi keempat dengan realisasi investasi sebesar US$ 4,5 miliar. Investasi negara jiran tersebut tersebar di sektor industri, perkebunan, dan jasa keuangan.
Sementara itu, Jepang berada di peringkat kelima dengan nilai investasi mencapai US$ 3,1 miliar. Investasi Jepang masih didominasi sektor otomotif, elektronik, dan manufaktur berteknologi tinggi.
Secara keseluruhan, realisasi investasi di Indonesia sepanjang 2025 mencapai Rp 1.931,2 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Dari total tersebut, kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp 900,9 triliun atau setara 46,6 persen.
Pemerintah menilai, arus investasi dari lima negara tersebut menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui penguatan sektor industri, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Rosan optimistis, tren investasi dari Singapura, Hong Kong, China, Malaysia, dan Jepang akan terus meningkat seiring dengan stabilitas ekonomi nasional dan berbagai program strategis pemerintah. (*)
Redaktur: Rendi Rustandi












