Berita UtamaKabupaten Sukabumi

Antara Obor, Sungai, dan Mayat Tanpa Kepala di Ciracap Sukabumi

×

Antara Obor, Sungai, dan Mayat Tanpa Kepala di Ciracap Sukabumi

Sebarkan artikel ini
DIEVAKUASI: Petugas kepolisian bersama tim gabungan mengevakuasi jenazah laki-laki tanpa identitas yang ditemukan di aliran Sungai Curug Darismin, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Kamis (8/1/2026) malam. (Foto: Dokumen Inilahsukabumi.com)
DIEVAKUASI: Petugas kepolisian bersama tim gabungan mengevakuasi jenazah laki-laki tanpa identitas yang ditemukan di aliran Sungai Curug Darismin, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Kamis (8/1/2026) malam. (Foto: Dokumen Inilahsukabumi.com)

INILAHSUKABUMI.COM – Obor kecil di tangan Ikoh Nuryadi dan Saepul Rohman seharusnya hanya menerangi air sungai dan kilau ikan di malam hari. Kamis (8/1/2026) malam itu, keduanya tak pernah membayangkan cahaya obor justru akan membuka pemandangan paling mengerikan yang pernah mereka saksikan sepanjang hidup.

Malam masih muda ketika Ikoh (53) dan Saepul (43) melangkah meninggalkan rumah. Sekitar pukul 21.00 WIB, mereka menuju aliran sungai di Kampung Cikeresek, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Tujuannya sederhana dan biasa dilakukan warga desa: ngobor, mencari ikan dengan obor sebagai penerangan, sambil memeriksa sawah padi yang sebentar lagi panen.

Langkah mereka membawa ke kawasan Curug Darismin, tepatnya di area yang oleh warga dikenal sebagai Kebun Awi, kebun bambu dengan jalur terjal dan jurang curam. Tempat itu jarang dilalui manusia.

“Lokasinya susah turunnya, terjal, jurang kebun bambu,” kenang Ikoh, saat ditemui keesokan harinya.

Sesampainya di sungai, cahaya obor memantul di permukaan air. Ikan-ikan terlihat berkumpul di satu titik. Ada ikan hitam, kepiting sawah, dan biota sungai lain yang mengerubungi sesuatu yang tersangkut di aliran air. Pemandangan itu sempat membuat mereka gembira.

Saepul, yang berada di depan, menduga benda tersebut hanyalah bangkai hewan ternak yang hanyut. Dalam remang cahaya, permukaannya tampak seperti berbulu, kulitnya rusak dan samar.

“Aduh, ini anak sapi atau domba? Kok sudah berbulu,” ujar Ikoh, menirukan percakapan mereka malam itu.

Namun dugaan itu runtuh seketika saat Saepul mendekat dan menyorotkan obor lebih tajam. Perlahan, bentuk yang semula tak jelas mulai terbaca. Tumit. Betis. Saepul berhenti bernapas sejenak, lalu menghitung jari kaki.

“Pas dilihat ternyata manusia. Terlihat mata kaki. Pas dihitung jarinya ada lima,” tutur Saepul dengan suara bergetar.

Kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa mual yang menusuk. Ikan-ikan yang sejak tadi mereka tangkap dengan gembira ternyata sedang memakan daging jenazah manusia. Tubuh itu mengambang dalam posisi tertelungkup, tersangkut di aliran sungai, tanpa kepala.

Bau amis darah tercium, meski belum menyengat seperti bangkai lama. Kondisi jasad sangat memprihatinkan. Kulit tubuhnya mengelupas, sementara bagian betis kanan terlihat patah. Tulang kecil mencuat keluar, terpisah dari daging.

“Betis kanan patah, tulangnya keluar. Entah dimakan biawak atau bagaimana, yang jelas sudah terpisah,” ujar Ikoh lirih.

Rasa ngeri menguasai tubuh mereka. Tanpa sepatah kata, Ikoh dan Saepul segera membuang seluruh ikan yang sempat mereka masukkan ke dalam kaneron, tas tradisional yang mereka bawa.

“Ngeri lihat kondisinya. Ikan dilepaskan semua,” kata Ikoh.

Malam itu, niat mencari ikan sirna. Dengan tubuh gemetar, keduanya memanjat kembali dari jurang sungai dan segera melaporkan penemuan tersebut kepada warga serta aparat desa. Kampung Cikeresek yang biasanya sunyi mendadak gempar.

Kini, lokasi Kebun Awi kembali lengang. Sungai mengalir seperti biasa, seolah tak pernah menyimpan rahasia kelam. Namun bagi Ikoh dan Saepul, malam itu akan terus hidup dalam ingatan. Malam ketika obor kecil, sungai sunyi, dan sesosok mayat tanpa kepala bertemu dalam satu peristiwa yang tak akan pernah mereka lupakan.

Sementara itu, identitas mayat tanpa kepala tersebut masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. (*)

Redaktur: Rendi Rustandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *