Berita Utama

FK3I Kecewa ke BBKSDA Jabar, Hasil Penelitian Rambut Harimau di Sukabumi Tak Jelas

×

FK3I Kecewa ke BBKSDA Jabar, Hasil Penelitian Rambut Harimau di Sukabumi Tak Jelas

Sebarkan artikel ini
SERAHTERIMA: Kepala Desa Sukadamai, Rudi Hartono dan Kepala Resor KSDA Sukabumi Oyok Herlan memperlihatkan surat tanda terima dan empat buah plastik berisi sampel rambut diduga Harimau di Kantor Desa Sukaramai, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Kamis 28 Juli 2022 lalu. Ft: ist
SERAHTERIMA: Kepala Desa Sukadamai, Rudi Hartono dan Kepala Resor KSDA Sukabumi Oyok Herlan memperlihatkan surat tanda terima dan empat buah plastik berisi sampel rambut diduga Harimau di Kantor Desa Sukaramai, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Kamis 28 Juli 2022 lalu. Ft: ist

INILAHSUKABUMI.COM – Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Nasional melayangkan kritik kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat terkait belum disampaikannya hasil penelitian empat helai rambut yang diduga milik harimau dari Desa Sukadamai, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.

Sampel rambut ini diketahui telah diserahkan masyarakat kepada BBKSDA Jawa Barat sejak Kamis, 28 Juli 2022, untuk dilakukan penelitian guna memastikan keberadaan satwa liar yang dilindungi di wilayah tersebut.

Ketua FK3I Nasional, Dedi Kurniawan, menyatakan kekecewaannya atas lambannya respons dan minimnya transparansi dari pihak BBKSDA Jabar. Ia menilai hingga hampir tiga tahun berlalu, belum ada informasi resmi yang disampaikan kepada publik terkait hasil penelitian tersebut.

“Pihak BBKSDA Jabar saat itu menjanjikan akan meneliti kebenaran sampel rambut tersebut. Namun, hingga saat ini belum ada penjelasan yang diberikan. Ini sudah hampir tiga tahun,” ujar Dedi Kurniawan dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (26/12/2025).

Menurut Dedi, empat helai rambut itu diserahkan oleh warga yang peduli terhadap konservasi satwa liar. Karena itu, ia menilai keterlambatan tersebut sebagai bentuk pengabaian pelayanan kepada masyarakat.

FK3I juga menilai ketidakjelasan hasil penelitian berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, terutama terkait kepastian keberadaan harimau di wilayah tersebut. Dedi menegaskan bahwa pemeriksaan laboratorium dan penyampaian hasilnya kepada publik merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi BBKSDA.

“Seharusnya pihak BBKSDA berterima kasih kepada masyarakat dan segera melakukan pengecekan. Hasilnya perlu diumumkan agar tidak terjadi simpang siur informasi,” katanya.

Atas kondisi tersebut, FK3I meminta Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) untuk turun tangan. KSDAE selaku atasan Unit Pelaksana Teknis (UPT) seperti BBKSDA Jawa Barat diharapkan dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini.

“Jangan sampai semangat masyarakat dalam menjaga kelestarian satwa liar justru luntur akibat birokrasi yang lambat,” pungkas Dedi.

Sementara itu, Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, berjanji akan menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan keberadaan harimau di Sukabumi. Pernyataan tersebut disampaikannya usai kegiatan pelepasan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) bernama Raja Dirgantara di kawasan Situgunung, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (13/12/2025) lalu.

“Tentunya laporan dari masyarakat atau pihak lain akan kami tindaklanjuti,” ujar Rohmat saat dimintai tanggapan terkait belum adanya hasil penelitian sampel rambut yang diserahkan kepada BBKSDA Jabar sejak Juli 2022.

Diketahui sebelumnya, warga Desa Sukadamai menyerahkan empat helai rambut yang diduga rambut harimau kepada petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Penyerahan dilakukan di Kantor Desa Sukadamai dan diwakili oleh Kepala Desa Sukadamai, Rudi Hartono.

“Pada hari ini kami menyerahkan empat helai rambut yang ditemukan oleh warga untuk diteliti, dengan harapan dapat diketahui berasal dari jenis hewan apa,” kata Rudi saat itu.

Rambut-rambut tersebut ditemukan di saung milik Baed, seorang petani setempat yang mengaku melihat sosok hewan diduga harimau. Setiap helai rambut diserahkan dalam kondisi terbungkus plastik klip, dengan warna bervariasi, di antaranya oranye serta gradasi cokelat tua, putih, dan hitam.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, pada 18 Juli 2022 Pak Baed melihat sosok diduga harimau di saungnya,” ujar Rudi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *