Kabupaten Sukabumi

KDM: Kabupaten Sukabumi Krisis Ekologi

×

KDM: Kabupaten Sukabumi Krisis Ekologi

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau akrab disapa KDM. Sumber Foto: jabarprov.go.id
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau akrab disapa KDM. Sumber Foto: jabarprov.go.id

INILAHSUKABUMI.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti krisis ekologi yang terjadi di Kabupaten Sukabumi. Menurutnya, kerusakan lingkungan di wilayah tersebut dipicu oleh dominasi perkebunan kelapa sawit dan aktivitas pertambangan yang masif.

Dedi menyebut Kabupaten Sukabumi sebagai daerah yang menghadapi persoalan lingkungan secara berkelanjutan akibat tekanan terhadap alam yang terus meningkat.

“Kabupaten Sukabumi merupakan wilayah yang problematik. Daerah ini terus mengalami berbagai persoalan akibat kerusakan alam,” ujar Dedi Mulyadi.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah faktor utama yang memperparah kondisi ekologi di Sukabumi. Di antaranya adalah maraknya aktivitas pertambangan, baik legal maupun ilegal, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta terus menyusutnya kawasan hijau dan hutan.

“Di sana banyak sekali titik penambangan, kemudian alih fungsi lahan yang masif, dan yang ketiga adalah semakin berkurangnya areal hijau dan hutan,” imbuhnya.

Selain itu, Dedi mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang dimilikinya, Kabupaten Sukabumi tercatat sebagai daerah dengan kawasan perkebunan kelapa sawit terluas di Jawa Barat.

“Berdasarkan data yang kita miliki, kebun sawit terbesar di Jawa Barat berada di Kabupaten Sukabumi. Dampaknya terlihat dari kerusakan jalan akibat mobil bermuatan berat yang lalu lalang setiap hari, sehingga persoalan lingkungan dan infrastruktur terus terjadi,” ujarnya lagi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi kelapa sawit di Jawa Barat pada tahun 2021 mencapai 133.968,95 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.072,63 ton berasal dari Kabupaten Sukabumi, sementara Kabupaten Bogor menyumbang 43.183,08 ton. Sisanya diproduksi di Subang, Cianjur, Garut, dan Bandung Barat.

Sebelumnya, terkait isu alih fungsi lahan, Dedi Mulyadi telah secara tegas melarang pengembangan perkebunan kelapa sawit di wilayah Jawa Barat. Ia menilai kondisi geografis Jawa Barat yang terbatas tidak sesuai untuk pengembangan sawit dalam skala luas.

“Karakteristik wilayah Jawa Barat tidak cocok untuk sawit karena membutuhkan lahan yang sangat luas dan berisiko mengganggu ketersediaan air serta keseimbangan ekosistem,” tegasnya.

Menurut Dedi, Jawa Barat lebih ideal untuk komoditas perkebunan yang selaras dengan kondisi alam dan keberlanjutan lingkungan.

“Jawa Barat lebih cocok untuk teh, karet, kina, dan kopi,” pungkasnya. (*)

Redaktur: Rendi Rustandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *